// <![CDATA[TIPOLOGI WILAYAH PERI-URBAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA]]> Yanti Budiyantini, Ir., M.Dev.Plg. VIDYA PRATIWI / 242011029 Penulis Priza Marendraputra, S.T., MURP
Fenomena peri-urbanisasi di Indonesia salah satunya terjadi pada Kota Bandung. Perkembangan Kota Bandung yang dari tahun ke tahun semakin pesat baik dalam hal penduduk, sosial ekonomi, ketersediaan sarana dan prasarana maupun perluasan fisik perkotaan menyebabkan perkembangan tersebut melintasi batas administrasinya. Hal ini dapat dilihat di daerah perbatasan yang sudah membaur menjadi perkotaan. Daerah yang menerima dampak dari pertumbuhan dan perkembangan Kota Bandung adalah wilayah yang secara langsung berbatasan dengan Kota Bandung yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sumedang. Akibat penjalaran nilai kekotaan tersebut maka wilayah pinggiran sebagai wilayah yang terkena dampak dari perluasan kota, memiliki karakteristik kekotaan yang berbeda-beda. Untuk itu perlu adanya pengenalan fisik, sosial dan ekonomi pada wilayah peri-urban sehingga terbentuk kelompok-kelompok wilayah yang memiliki ciri yang sama serta perencanaan yang matang sesuai dengan karakteristik kelompok wilayah peri-urban yang terbentuk. Pengenalan ciri wilayah peri-urban dari karakteristik fisik, sosial dan ekonominya serta mengelompokkan wilayah peri-urban ke beberapa kelompok yang memiliki ciri homogen berfungsi sebagai salah satu masukan bagi penyusunan kebijakan pembangunan kawasan peri-urban di Metropolitan Bandung Raya pada masingmasing tipologi wilayah peri-urban yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan penelitian maka terlebih dahulu dilakukan pemilihan kriteria penentu tipologi wilayah peri-urban yang diturunkan dari indikator yang dihasilkan dengan studi literatur. Variabel tersebut merupakan variabel yang dapat mewakili aspek fisik, sosial dan ekonomi. Setelah itu dilakukan analisis pengelompokan terhadap wilayah-wilayah peri-urban yang terdapat pada Metropolitan Bandung Raya (unit desa, 255 desa) dengan menggunakan analisis multivariat (cluster analysis). Dari hasil analisis cluster tersebut maka terbentuklah 3 tipologi wilayah pinggiran yaitu dominan kota, semi kota dan potensi kota. Dominan kota yaitu wilayah dengan ciri lahan orientasi kekotaan, karakteristik sosial kekotaan serta kegiatan ekonomi penduduk pada sektor sekunder dan tersier. Semi kota yaitu wilayah memiliki ciri lahan orientasi kekotaan dan non kekotaan serta kegiatan ekonomi penduduk sudah tampak pada sektor sekunder dan tersier namun belum sepenuhnya. Potensi kota merupakan wilayah yang masih berciri desa baik secara fisik, sosial dan ekonomi. Kelompok dominan kota tampak menyatu dengan lahan terbangun dan menjalar ke daerah di sekitarnya dan tampak intensif pada selatan Kota Inti Bandung-Cimahi, namun demikian terdapat beberapa desa terletak berjauhan dengan kota inti namun masuk ke dalam kelompok ini, klaster semi kota tampak kompak pada selatan kota inti, sedangkan klaster potensi kota tampak kompak pada wilayah utara Kota Inti.