TIPOLOGI WILAYAH PERI-URBAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA
Fenomena peri-urbanisasi di Indonesia salah satunya terjadi pada Kota
Bandung. Perkembangan Kota Bandung yang dari tahun ke tahun semakin pesat
baik dalam hal penduduk, sosial ekonomi, ketersediaan sarana dan prasarana
maupun perluasan fisik perkotaan menyebabkan perkembangan tersebut melintasi
batas administrasinya. Hal ini dapat dilihat di daerah perbatasan yang sudah
membaur menjadi perkotaan. Daerah yang menerima dampak dari pertumbuhan dan
perkembangan Kota Bandung adalah wilayah yang secara langsung berbatasan
dengan Kota Bandung yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan
Kabupaten Sumedang. Akibat penjalaran nilai kekotaan tersebut maka wilayah
pinggiran sebagai wilayah yang terkena dampak dari perluasan kota, memiliki
karakteristik kekotaan yang berbeda-beda. Untuk itu perlu adanya pengenalan fisik,
sosial dan ekonomi pada wilayah peri-urban sehingga terbentuk kelompok-kelompok
wilayah yang memiliki ciri yang sama serta perencanaan yang matang sesuai
dengan karakteristik kelompok wilayah peri-urban yang terbentuk. Pengenalan ciri
wilayah peri-urban dari karakteristik fisik, sosial dan ekonominya serta
mengelompokkan wilayah peri-urban ke beberapa kelompok yang memiliki ciri
homogen berfungsi sebagai salah satu masukan bagi penyusunan kebijakan
pembangunan kawasan peri-urban di Metropolitan Bandung Raya pada masingmasing
tipologi wilayah peri-urban yang terbentuk.
Untuk mencapai tujuan penelitian maka terlebih dahulu dilakukan pemilihan
kriteria penentu tipologi wilayah peri-urban yang diturunkan dari indikator yang
dihasilkan dengan studi literatur. Variabel tersebut merupakan variabel yang dapat
mewakili aspek fisik, sosial dan ekonomi. Setelah itu dilakukan analisis
pengelompokan terhadap wilayah-wilayah peri-urban yang terdapat pada
Metropolitan Bandung Raya (unit desa, 255 desa) dengan menggunakan analisis
multivariat (cluster analysis).
Dari hasil analisis cluster tersebut maka terbentuklah 3 tipologi wilayah
pinggiran yaitu dominan kota, semi kota dan potensi kota. Dominan kota yaitu
wilayah dengan ciri lahan orientasi kekotaan, karakteristik sosial kekotaan serta
kegiatan ekonomi penduduk pada sektor sekunder dan tersier. Semi kota yaitu
wilayah memiliki ciri lahan orientasi kekotaan dan non kekotaan serta kegiatan
ekonomi penduduk sudah tampak pada sektor sekunder dan tersier namun belum
sepenuhnya. Potensi kota merupakan wilayah yang masih berciri desa baik secara
fisik, sosial dan ekonomi.
Kelompok dominan kota tampak menyatu dengan lahan terbangun dan
menjalar ke daerah di sekitarnya dan tampak intensif pada selatan Kota Inti
Bandung-Cimahi, namun demikian terdapat beberapa desa terletak berjauhan
dengan kota inti namun masuk ke dalam kelompok ini, klaster semi kota tampak
kompak pada selatan kota inti, sedangkan klaster potensi kota tampak kompak pada
wilayah utara Kota Inti.
Detail Information
Citation
APA Style
. ().TIPOLOGI WILAYAH PERI-URBAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA ().:
Chicago Style
.TIPOLOGI WILAYAH PERI-URBAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA ().:,.Text
MLA Style
.TIPOLOGI WILAYAH PERI-URBAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA ().:,.Text
Turabian Style
.TIPOLOGI WILAYAH PERI-URBAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA ().:,.Text