// <![CDATA[PENGARUH RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Bandung]]> Ira Irawati, ST, MT Danno Maulana Lakussa 24-2011-039 Penulis
Pembangunan berkelanjutan saat ini menjadi isu yang penting hampir di seluruh negara, salah satunya di Indonesia yang merupakan negara berkembang, di mana pembangunan berkelanjutan harus berprinsip pada pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan (Bruntland, 1987). Peningkatan aktivitas dan pembangunan yang dilakukan berdampak pada lingkungan thermal di kawasan perkotaan. Aktivitas yang dilakukan dengan intensitas tinggi menimbulkan berbagai dampak, salah satunya pada lingkungan yang tidak nyaman ditandai dengan peningkatan temperatur udara di kota (Wonorahardjo, 2009). Meningkatnya lahan terbangun dan menurunnya lahan terbuka hijau menyebabkan terjadinya peningkatan temperatur udara kawasan. Sehingga menimbulkan ketidaknyamanan seseorang berada di dalam kawasan tersebut dan menimbulkan pulau panas atau heat island. Akibat dari adanya peningkatan temperatur perkotaan, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ruang terbuka hijau dan lahan terbangun terhadap iklim mikro yang meningkatkan dan menurunkan temperatur udara kawasan perkotaan, terutama kota-kota besar yang memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi, termasuk Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui iklim mikro kawasan pusat Kota Bandung yang dipengaruhi oleh ruang terbuka hijau dan lahan terbangun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda untuk menghitung besar pengaruh antara setiap variabel dengan temperatur udara. Selain Analisis regresi linear berganda penelitian ini menggunakan analisis deskriminan, analisis deskriminan digunakan untuk mengetahui seberapa besar keeratan hubungan antar variabel atau menjadi pembeda dengan variabel terikat. Penelitian ini dilakukan di 12 zona penelitian di pusat kota Bandung. Dimana satu titik pengukuran mempunyai luas 300m. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa temperatur udara di dalam zona dipengaruhi oleh lahan terbangun ; orientasi bangunan, jenis material bangunan, jenis material permukaan jalan, dan vegetasi kawasan ; tingkat keteduhan pohon dan kerapatan pohon. Karakteristik kawasan sangat berpengaruh dalam kenaikan dan penurunan temperatur udara hal ini dapat dilihat dari hasil analisis kenaikan/penurunan temperatur udara. Meskipun kerapatan pohon memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temperatur udara, jika di kondisi eksisting zona tersebut tidak memiliki kerapatan pohon maka zona tersebut juga akan mengalami kenaikan temperatur udara yang tinggi seperti zona Otto Iskandardinata yaitu sebesar +5,7oC, sedangkan zona dengan penurunan temperatur udara yang tinggi karena dipengaruhi oleh tingkat kerapatan dan keteduhan pohon yang tinggi yaitu zona Kalimanatan yaitu sebesar -9.9oC. Selain temperatur udara, kelembaban udara juga berpengaruh untuk mengukur kenyamanan seseorang yang dilihat dari nyaman dan tidak nyaman kelembaban berada di dalam zona tersebut semakin tinggi kelembaban zona maka zona panas yang dihasilkan tinggi dan membuat seseorang tidak nyaman berada di dalam zona tersebut. Zona dengan kelembaban tinggi yaitu zona Keutamaan Istri.