PENGARUH RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU
TERHADAP IKLIM MIKRO
Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Bandung
Pembangunan berkelanjutan saat ini menjadi isu yang penting hampir di seluruh negara, salah
satunya di Indonesia yang merupakan negara berkembang, di mana pembangunan
berkelanjutan harus berprinsip pada pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan
pemenuhan kebutuhan generasi masa depan (Bruntland, 1987). Peningkatan aktivitas dan
pembangunan yang dilakukan berdampak pada lingkungan thermal di kawasan perkotaan.
Aktivitas yang dilakukan dengan intensitas tinggi menimbulkan berbagai dampak, salah
satunya pada lingkungan yang tidak nyaman ditandai dengan peningkatan temperatur udara
di kota (Wonorahardjo, 2009). Meningkatnya lahan terbangun dan menurunnya lahan terbuka
hijau menyebabkan terjadinya peningkatan temperatur udara kawasan. Sehingga
menimbulkan ketidaknyamanan seseorang berada di dalam kawasan tersebut dan
menimbulkan pulau panas atau heat island.
Akibat dari adanya peningkatan temperatur perkotaan, maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh ruang terbuka hijau dan lahan terbangun terhadap iklim mikro yang
meningkatkan dan menurunkan temperatur udara kawasan perkotaan, terutama kota-kota
besar yang memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi, termasuk Kota Bandung. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui iklim mikro kawasan pusat Kota Bandung yang dipengaruhi oleh
ruang terbuka hijau dan lahan terbangun.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dengan menggunakan metode analisis
regresi linier berganda untuk menghitung besar pengaruh antara setiap variabel dengan
temperatur udara. Selain Analisis regresi linear berganda penelitian ini menggunakan analisis
deskriminan, analisis deskriminan digunakan untuk mengetahui seberapa besar keeratan
hubungan antar variabel atau menjadi pembeda dengan variabel terikat. Penelitian ini
dilakukan di 12 zona penelitian di pusat kota Bandung. Dimana satu titik pengukuran
mempunyai luas 300m.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa temperatur udara di dalam zona dipengaruhi
oleh lahan terbangun ; orientasi bangunan, jenis material bangunan, jenis material
permukaan jalan, dan vegetasi kawasan ; tingkat keteduhan pohon dan kerapatan pohon.
Karakteristik kawasan sangat berpengaruh dalam kenaikan dan penurunan temperatur udara
hal ini dapat dilihat dari hasil analisis kenaikan/penurunan temperatur udara. Meskipun
kerapatan pohon memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temperatur udara, jika di
kondisi eksisting zona tersebut tidak memiliki kerapatan pohon maka zona tersebut juga akan
mengalami kenaikan temperatur udara yang tinggi seperti zona Otto Iskandardinata yaitu
sebesar +5,7oC, sedangkan zona dengan penurunan temperatur udara yang tinggi karena
dipengaruhi oleh tingkat kerapatan dan keteduhan pohon yang tinggi yaitu zona Kalimanatan
yaitu sebesar -9.9oC. Selain temperatur udara, kelembaban udara juga berpengaruh untuk
mengukur kenyamanan seseorang yang dilihat dari nyaman dan tidak nyaman kelembaban
berada di dalam zona tersebut semakin tinggi kelembaban zona maka zona panas yang
dihasilkan tinggi dan membuat seseorang tidak nyaman berada di dalam zona tersebut. Zona
dengan kelembaban tinggi yaitu zona Keutamaan Istri.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2015).PENGARUH RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU
TERHADAP IKLIM MIKRO
Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Bandung ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.PENGARUH RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU
TERHADAP IKLIM MIKRO
Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Bandung ().Teknik Planologi:FTSP,2015.Text
MLA Style
.PENGARUH RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU
TERHADAP IKLIM MIKRO
Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Bandung ().Teknik Planologi:FTSP,2015.Text
Turabian Style
.PENGARUH RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU
TERHADAP IKLIM MIKRO
Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Bandung ().Teknik Planologi:FTSP,2015.Text