// <![CDATA[FORMULASI BLENDING BIODIESEL DARI MINYAK GORENG SAWIT BEKAS DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK SOLAR]]> Haryono, S.T., M.T. Carlina Noersalim, Ir., M.T. Rena Budiyanti /14-2011-069 Penulis Neli Ulpah Antika/ 14-2014-001 Dosen Pembimbing 1
Biodiesel dan solar merupakan salah satu sumber bahan utama dalam formulasi blending. Biodiesel digunakan sebagai bahan bakar alternatif dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin diesel. Biodiesel murni (B100) memiliki viskositas yang tinggi yang dalam penggunaannya dapat merusak mesin diesel. Pengurangan viskositas yang tinggi pada biodiesel murni sangat diperlukan dengan melakukan proses pencampuran (blending) biodiesel dengan solar. Pencampuran biodiesel dengan solar ini menjadi salah satu solusi untuk menjaga dan memelihara ketahanan dari mesin diesel yang digunakan tanpa memodifikasi mesin diesel tersebut. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan minyak goreng sawit bekas sebagai bahan baku pembuatan biodiesel dan dicampurkan dengan solar dengan berbagai macam variasi konsentrasi sehingga memenuhi standar mutu ASTM untuk dijadikan bahan bakar mesin diesel. Aspek yang dipelajari adalah tahap analisis biosolar dengan parameter yang digunakan di antara lain densitas, viskositas kinematik, bilangan asam, dan angka setana berdasarkan waktu, kecepatan pengadukan, dan suhu. Penelitian ini dilakukan pada formulasi blending biodiesel B5, B10, B15, B20, B25, B30, dan suhu pengadukan ±25 oC serta waktu pengadukan selama 10 menit. Dari hasil penelitian pendahuluan didapatkan kecepatan pengadukan optimum sebesar 920 rpm. Densitas dan angka setana dari biodiesel dan biosolar yang dihasilkan sudah memenuhi standar mutu ASTM. Parameter viskositas terbaik saat formulasi blending B10 – B20 karena sesuai dengan standar mutu ASTM B6 – B20, yaitu 3 mm2/s. Viskositas untuk B25 dan B30 lebih dari 4,1 mm2/s, yaitu 4,219 dan 4,255 mm2/s. Untuk hasil analisis bilangan asam yang memenuhi standar adalah B10 – B20, sedangkan untuk B25 – B30 sudah melebihi standar mutu bilangan asam ASTM, yaitu 0,3 mg KOH/g.