// <![CDATA[ANALISIS PERBANDINGAN TRAFFIC POLICING DAN TRAFFIC SHAPING UNTUK TRAFFIC MANAGEMENT PADA JARINGAN TCP/IP]]> FAHMY SHABAR / 11-2004-133 Penulis Lita Lidyawati, S.T.,M.T.
Penggunaan komunikasi data dan akses internet yang semakin meningkat membutuhkan traffic management untuk memanfaatkan sumber daya jaringan yang sifatnya terbatas untuk saat ini yaitu transfer rate. Perangkat router khususnya yang berbasis Linux telah menyediakan traffic control (tc) berupa modul – modul seperti CBQ dan HTB. Namun pada penerapannya modul – modul tersebut tetap membutuhkan metoda dasar seperti policing dan shaping. Traffic Policing dan Traffic Shaping menggunakan token bucket untuk mengatur transfer rate pada interface router. Pada metoda policing, paket data yang melebihi burst (pada long term akan mengindikasikan CIR) akan langsung di-drop. Sedangkan shaping akan menyimpan paket data yang melebihi burst pada buffer sampai token tersedia pada bucket. Jika paket menunggu pada buffer tetapi paket – paket selanjutnya terus berdatangan maka shaping akan men-drop paket tersebut. Penerapan Traffic Policing dan Traffic Shaping pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pada perangkat router berbasis sistem operasi Fedora Core 10. Skenario I menerapkan kedua metoda dengan mengatur time interval sebesar 0,390625 detik dan Skenario II time interval diatur sebesar 1,5 detik. Skenario III menggunakan FTP server dan Skenario IV menggunakan WEB server. Transfer Rate download yang diatur sebesar 128 kbps, 256 kbps, 384 kbps, dan 512 kbps. Hasil implementasi menunjukkan dari segi throughput metoda Traffic Shaping menghasilkan nilai lebih besar sekitar 1,6 – 79,498 kbps dibandingkan Traffic Policing. Packet drop yang dihasilkan Traffic Policing lebih besar 12% - 33% dibandingkan Traffic Shaping. Dari segi ketepatan alokasi transfer rate, Traffic Shaping menghasilkan nilai lebih besar sebesar 0,6 – 15,885 % dibandingkan Traffic Policing.