// <![CDATA[RANCANGAN TATA LETAK GUDANG BAHAN BAKU DENGAN METODE CLASS BASED STORAGE DI PT. AGRONESIA DIVISI INDUSTRI KARET]]> Ir. Susy Susanty, M.T. Ir. Abu Bakar, M.M. MOH. IBNU PRASTYO /13-2011-251 Penulis
Gudang merupakan tempat penyimpanan sementara persediaan yang terjadi akibat kurang seimbangnya jumlah penwaran dan permintaan (Lambert et al, 1993). Tempat penyimpanan yang baik adalah yang disimpan dalam keadaan tersusun rapi dan berkelompok sehingga mudah dalam pencapaian material, yakni penyimpanan dan pengambilan material (Apple, 1990). Pengelompokkan dilakukan agar utilitas gudang menjadi lebih maksimal. PT. Agronesia (Inkaba) memiliki pabrik yang dilengkapi gudang bahan baku, yang terdiri dari karet alam, sintetis serta bahan baku penunjang. Setiap bahan baku memiliki jumlah dan jenis yang beragam. Penyimpanan bahan baku dan tata letak gudang di PT. Agronesia (Inkaba) saat ini menggunakan metode dedicated storage. Metode dedicated storage menetapkan bahan baku ditempatkan kedalam tempat yang telah disediakan tanpa adanya perubahan peletakan bahan baku. PT. Agronesia membagi ruang gudang menjadi 8 ruang. Kenaikan permintaan pada beberapa bahan baku seperti karet alam menyebabkan gudang tidak mampu menyimpan penambahan permintaan. Akibatnya penyimpanan bahan baku menjadi menjadi tidak rapi. Operator akhirnya menyimpan bahan baku diluar area yang telah ditetapkan, seperti di area gang. Sementara disisi lain, beberapa ruang di gudang mengalami kekosongan. Untuk mengatasi persoalan diatas dilakukan rancangan ulang tata letak gudang bahan baku berdasarkan kebijakan penyimpanan berkelompok. Penyimpanan berkolompok yang dimaksud adalah pengelompokan dengan kriteria kriteria tipe material dan banyaknya permintaan. Larson (1997) mengembangkan algoritma dalam kebijakan pengelompokkan yaitu dengan algoritma kedalaman baris dan pengelompokan. Langkah awal dalam menggunakan algoritma adalah merancang gudang agar dapat dikatakan baik termasuk mepertimbangkan ukuran gang dan ukuran rak. Selanjutnya menghitung jumlah kebutuhan tempat penyimpanan dan kedalaman baris untuk setiap produk menggunakan algoritma kedalaman baris. Setelah itu mengelompokan bahan baku kedalam area penyimpanan menggunakan algoritma pengelompokan. Dari hasil rancangan terpilih didapat bahwa dibutuhkan 41 rak yang terdiri dari 3 trap dengan kedalaman baris sebesar 1. Rancangan menghasilkan 3 area yang membagi bahan baku menjadi 3 kelompok. Sementara dari hasil perhitungan luas dan existing layout didapat penghematan luas sebesar 68 m² dengan peningkatan utilitas gudang sebesar 43%.