// <![CDATA[FIGHT CANCER HOSPITAL BANDUNG :]]> Egie Ginanjar / 212013260 Dosen Pembimbing 1 Tecky Hendrarto Ir., MT. Widji Indahing Tyas Ir., MT.
Kanker merupakan salah satu jenis penyakit dengan penderita tertinggi di Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai data kanker yang dipublikasikan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga kanker. Bahkan menurut WHO pada tahun 2030 akan terjadi lonjakan penderita kanker di Indonesia sampai tujuh kali lipat. Dari sekian banyak masyarakat yang mengidap penyakit kanker, Indonesaia hanya memiliki dua rumah sakit spesialis kanker, yakni Dharmais dan MRCC Siloam Semanggi. Kota Bandung sebagai Ibu kota provinsi Jawa Barat dengan perkembangannya yang pesat baik secara fisik maupun lingkungan binaan non fisik menuju kota metropolitan belum memiliki rumah sakit spesialis kanker, melihat jumlah penduduk warga Jawa Barat terbanyak di Indonesia dengan jumlah pengidap kanker sekitar 40.737.594 orang. Oleh karena itu perlu adanya rumah sakit spesialis yang menangani penyakit kanker yang dapat melayani masyarakat Jawa Barat khususnya Kota Bandung. Fight Cancer Hospital Bandung dirancang dengan standar rumah sakit Kelas B memiliki kapasitas sekitar 100 tempat tidur. Konsep umum yang diterapkan rumah sakit ini yaitu Behaviour Architecture (Arsitektur Prilaku), Tujuan dari pemilihan tema tersebut dalam perencanaan dan perancangan bangunan dengan memperhatikan kenyamanan ,kebutuhan dan psikologi pengidap penyakit kanker melalui pendekatan dalam arsitektural yang baik dan tepat. Pendekatan arsitektural yang menggunakan faktor kenyamanan dan kebutuhan juga psikologi bagi pengidap penyakit kanker dalam mengembangkan perencanaan serta perancangan bangunan. Pendekatan arsitektur perilaku bertujuan untuk membantu proses terapi dan motivasi terhadap psikologi pasien, dimana pengidap penyakit kanker menjadi lebih bergairah dalam menjalani hidup dan semangat untuk sembuh. Dengan pendekatan ini, pengidap penyakit kanker sebagai pengguna utama akan merasa aman dan nyaman. Tidak sedikit nilai-nilai kemanusiaan tidak di indahkan untuk mencapai dan memaksimalkan efisiensi operasi. Hal ini menyebabkan nilai estetika yang rendah dan mengganggu lingkungan sekitarnya.