// <![CDATA[PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUSUNAMI KAMPUNG VERTIKAL HILIWIR BAGUSRANGIN]]> Ardhiana Muhsin, ST., MT. Widji Indahing Tyas, Ir., MT Muhammad Ibrahim /21-2012-065 Penulis
Kepadatan penduduk kota Bandung merupakan yang ke-4 terpadat se-indonesia yaitu 13.679 orang per km2 (BPS.indonesia) membuat angka kebutuhan akan hunian tempat tinggal meningkat pesat sedangkan lahan yang tersedia tetap. Dampaknya, banyak munculnya kawasan padat penduduk yang tidak teratur di tengah kota atau kampung kota. Solusinya adalah perelokasian warga ke hunian vertical atau disebut Rumah Susun. Nyatannya, banyak proyek serupa yang tidak memperhatiakan aspek budaya dan kebiasaan masyarakat relokasi sehingga penggunaan fungsi bangunan tidak optimal. Dengan tempat tinggal yang lebih nyaman dan layak serta tetap dapat mewadahi kebiasaan dan budaya hidup di kampung horizontal dapat menekan minat masyarakat terrelokasi untuk pindah ke Rumah Susun. Di Indonesia yang beriklim panas dan lembab, aliran udara diperlukan untuk mempercepat proses penguapan yang sangat berpengaruh pada kenyamanan penghuni. Oleh karena itu perancangan harus memperhatikan pula aspek penghawaan udara. Dengan cara meperhatikan bukaan yang ideal yang memiliki inlet dan outlet aliran udara sebagai jalur keluar-masuk nya aliran udara ke dalam bangunan, Gubahan bangunan yang dapat mengopimalkan aliran angin yang masuk ke dalam bangunan serta memahami sifat udara panas. Rusunami diperuntukan bagi kalangan masyarakat berpenghasilan menengah kebawah bukan berarti kenyamanan penghuni yang tinggal didalamnya diabaikan. Dengan penghawaan alami yang optimal pada bangunan dapat diperoleh kenyamanan udara tanpa bantuan penggunaan pengkondisian udara yang memerlukan biaya besar.