// <![CDATA[Desain Interior Museum Seni Rupa Modern Bandung Di Bandung]]> Dr. Jamaludin, M.Sn. Kunkun Kurnia, M.Ds Fahmi Mursyid/ 31-2011-027 Penulis
Seni rupa Bandung merupakan salah satu muatan seni rupa modern dan kontemporer di Indonesia. Kalau kita lihat ke belakang hingga munculnya Pelukis Lima Bandung tentulah kita akan dapat menyimpulkan bahwa Bandung merupakan motor pergerakan seni rupa Indonesia dari prakemerdekaan, pasca kemerdekaan hingga sekarang. Seniman lainnya yang seangkatan dengan Abdullah Suryosubroto sebagai pengisi masa “Mooi Indie” yaitu Sukardji dan Kendar Kerton yang kemudian disusul oleh kelompok Lima Bandung yang aktif pada tahun 1935-1940 yaitu Affandi, Barli, Wahdi, Sudarso dan Hendra. Mereka semua merupakan seniman yang hidup dan berjaya di masa Kolonial hingga sekarang. Dengan pendidikan dari Belanda para pelukis Bandung masa lalu telah bisa membaca literatur Barat antara lain gambar reproduksi karya seniman Barat yang terkenal pada waktu itu. Seni Rupa Modern Bandung merupakan salah satu titik tolak penting di dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Berangkat dari persepsi yang mengatakan bahwa seni rupa Bandung sebagai budaya merupakan rekaman dan catatan perjalanan peradaban Indonesia. Dimana pendidikan tinggi seni rupa tertua berada di Bandung, yakni Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar Universitas Indonesia (sekarang FSRD ITB) berdiri pada tahun 1947. Dengan latar belakang tersebut, oleh karena itu diperlukannya suatu fasilitas yang memberikan sarana edukasi dan pengungkapan sejarah, untuk memahami dan mempelajari seni rupa modern, khususnya Bandung. Museum sebagai lembaga yang bertujuan untuk merawat, mengembangkan, dan memamerkan untuk keperluan edukasi dan rekreasi merupakan suatu sarana yang tepat untuk menyampaikan pesan pembelajaran dan pelestarian karya koleksi seni rupa modern Bandung. Dalam mendesain interior pada proyek ini dibutuhkan analisa dan observasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seni rupa modern di Indonesia, dengan tujuan menciptakan dan meningkatkan kualitas ruang sehingga memiliki fungsi yang baik berdasarkan keputusan dan ketetapan desain yang disepakati sebagai tema. Kualitas ruang yang ingin dicapai tersebut adalah kenyamanan pengunjung dalam mengapresiasi koleksi yang dipajang, mendapatkan pengetahuan mengenai seni rupa modern Bandung, serta rekreasi agar pengunjung atau apresiator mendapatkan sesuatu yang lebih selain hal-hal yang bersifat edukasi. Dalam perancangannya Museum tersebut tidak hanya terbatas dalam area pamer saja beserta informasi-informasi sejarah dibaliknya, namun juga dilengkapi sarana pendukung seperti fasilitas untuk mengadakan event yang berkaitan dengan seni rupa di Bandung. Sehingga diharapkan Museum ini juga dapat menjadi ikon yang menunjukkan adanya gerakan seni rupa di Bandung sebagai wujud budaya bangsa, khususnya kota Bandung.