Perhitungan dan Analisis Arus Hubung Singkat Pada Gardu Traksi Tangerang Untuk Setting Relay Proteksi Arus Lebih
Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan salah satu model transportasi efisien yang sangat penting untuk menanggulangi masalah kemacetan, khususnya di wilayah Jabodetabek. Oleh karena itu jumlah Kereta Rel Listrik (KRL) terus ditingkatkan dari tahun ke tahun sehingga diperlukan gardu traksi baru sebagai catu daya Kereta Rel Listrik (KRL). Upaya pembangunan gardu traksi baru dituntut memiliki sistem proteksi yang baik untuk menjaga keberlangsungan Kereta Rel Listrik (KRL) agar tetap beroperasi. Oleh karena itu, diperlukan adanya analisis proteksi pada gardu traksi untuk meningkatkan kinerja gardu traksi tersebut.
Salah satu gangguan yang berakibat fatal terhadap kinerja gardu traksi adalah gangguan arus hubung singkat. Pada kondisi gangguan hubung singkat, High Speed Circuit Breaker (HSCB) yang merupakan proteksi pada gardu traksi mengalami trip dan mengunci. Maka dari itu, selain analisis terhadap gardu traksi perlu juga dilakukan analisis kabel listrik aliran atas. Analisis dilakukan dengan menghitung arus gangguan hubung singkat yang terjadi di tengah-tengah saluran listrik aliran atas, tepat di bawah gardu traksi, dan dibawah gardu traksi yang bersebelahan. Nilai arus gangguan hubung singkat tersebut akan dijadikan acuan untuk setting relay proteksi arus lebih pada gardu traksi Tangerang.
Tugas akhir ini membahas mengenai proteksi arus hubung singkat pada gardu traksi Tangerang – Batuceper dengan jarak 3,608 km. Sistem kabel listrik aliran atas di sepanjang lintasan Duri – Tangerang yang di bangun tahun 2000 adalah sistem Perancis yang memiliki luas penampang kawat bantu Bz 2 x 116,24 mm2, kawat trem Cu 2 x 107 mm2, kawat penyuplai BC 2 x 261,54 mm2. Akan dibandingkan dengan sistem kabel listrik aliran atas Jepang dan Belanda yang memiliki spesifikasi berbeda. Hasil perhitungan diperoleh bahwa arus gangguan hubung singkat terkecil terjadi pada sistem kabel listrik aliran atas Jepang, dengan nilai arus gangguan hubung singkat yang terjadi tepat di bawah gardu traksi adalah 7742 Ampere, arus gangguan hubung singkat yang terjadi di tengah-tengah saluran adalah 7059 Ampere, dan arus gangguan hubung singkat yang terjadi tepat di bawah gardu traksi yang bersebelahan 4068 Ampere. Dengan asumsi arus beban maksimum 3000 Ampere, maka relay ΔI dapat disetting antara 3000 A < ΔI < 4068 A, adapun kemampuan relay GRX200 milik Toshiba, maka setting relay ΔI pada 4000 Ampere.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2016).Perhitungan dan Analisis Arus Hubung Singkat Pada Gardu Traksi Tangerang Untuk Setting Relay Proteksi Arus Lebih ().Teknik Elektro:FTI
Chicago Style
.Perhitungan dan Analisis Arus Hubung Singkat Pada Gardu Traksi Tangerang Untuk Setting Relay Proteksi Arus Lebih ().Teknik Elektro:FTI,2016.Text
MLA Style
.Perhitungan dan Analisis Arus Hubung Singkat Pada Gardu Traksi Tangerang Untuk Setting Relay Proteksi Arus Lebih ().Teknik Elektro:FTI,2016.Text
Turabian Style
.Perhitungan dan Analisis Arus Hubung Singkat Pada Gardu Traksi Tangerang Untuk Setting Relay Proteksi Arus Lebih ().Teknik Elektro:FTI,2016.Text