// <![CDATA[ANALISIS KECEPATAN REAKSI PENGATUR PERJALANAN KERETA API DI STASIUN BESAR KELAS A DAN B DAERAH OPERASI II BANDUNG]]> Arie Desrianty, S.T., M.T. Lauditta Irianti, S.T., M.T. BAYU SETIA INDRAWAN/13-2012-058 Penulis
Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) merupakan merupakan awak darat yang berperan penting dalam keberlangsungan perjalanan kereta api dan mempunyai beban kerja tinggi, dituntut teliti, sigap dan waspada. Kemampuan kerja lebih rendah dari beban kerja akan menimbulkan ketidaknyamanan, overstress, kelelahan (Tarwaka, 2004). Kelelahan yang dirasakan PPKA dapat mempengaruhi kecepatan reaksi, kecepatan reaksi akan lebih lambat ketika partisipan mengalami kelelahan (Welford, 1968 dalam Konsinski, 2012). Beban kerja PPKA Stasiun Bandung seharusnya lebih besar dari beban kerja PPKA Stasiun Kiaracondong dilihat dari jumlah jalur, kepadatan lalu lintas, jumlah keberangkatan dan kedatangan kereta yang lebih banyak, maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hal tersebut. Perbandingan terhadap pengukuran kecepatan reaksi yang dialami PPKA Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong menggunakan metode objektif untuk mengukur waktu kecepatan reaksi menggunakan software Direct RT yang dilakukan 4 kali pengukuran sebelum dan sesudah dinasan pada shift siang dan malam dengan stimulus T5 dan T6 dan faktor kelelahan diukur dengan software Fatique Index Calculator berdasarkan waktu kerja. Hasil dari pengukuran kelelahan menunjukkan 87,5% terjadi pada shift malam, kelelahan yang dirasakan PPKA Kiaracondong lebih besar dari PPKA Bandung. Pengukuran kecepatan reaksi menunjukkan seluruh pengujian PPKA dengan tes T5 dibawah rata-rata, sedangkan dengan tes T6 25% diatas rata-rata. Kecepatan reaksi ratarata menurun sebanyak 78% pada saat dinasan malam. Adanya perbedaan kecepatan reaksi sebelum dan sesudah dinasan terjadi pada shift malam Stasiun Kiaracondong dengan tes T6. Hal tersebut dikarenakan pengukuran ke-2 PPKA GA terjadi gangguan wesel yang mengganggu konsentrasi. Tidak ada perbedaan rata-rata kecepatan reaksi pada kedua stasiun. Sebanyak 75% penurunan kecepatan reaksi sesudah dinasan disebabkan oleh kelelahan.