// <![CDATA[PENGARUH ZAT ADITIF TERHADAP EFISIENSI PENGOLAHAN LIMBAH ZAT WARNA DENGAN MENGGUNAKAN KOAGULAN ALUMUNIUM SULFAT]]> S. Juhanda, Ir., M.Eng. M Taufiq Aslam/14-2011-051 Penulis Rita Andriani/14-2014-014 Dosen Pembimbing 1 Ika Apriani/14-2014-016 Penulis Mathen Luther Doko, M.T.
Industri tekstil adalah industri yang dapat menghasilkan limbah zat warna terutama dari proses pencelupan. Selain mencemari lingkungan, zat warna tersebut juga dapat membahayakan keanekaragaman hayati dan mengganggu kesehatan, misalnya iritasi kulit, iritasi mata dan kanker. Pada saat ini pengolahan limbah zat warna dilakukan dengan proses koagulasi – flokulasi. Menurut beberapa peneliti efisiensi proses koagulasi – flokulasi dapat ditingkatkan dengan penambahan zat aditif seperti kapur, kitosan, dan tanin. Pada penelitian ini pengolahan limbah zat warna dilakukan dengan proses koagulasi – flokulasi dengan koagulan alumunium sulfat dan zat aditif berupa kapur dan kitosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat aditif yang ditambahkan ke dalam koagulan pada pengolahan limbah dengan cara koagulasi dan flokulasi dapat meningkatkan kinerja proses tersebut, kondisi terbaik diperoleh pada dosis sebesar 180 ppm dengan konsentrasi limbah terolah sebesar 12 ppm dan efisiensi sebesar 87%. Penambahan zat aditif kapur sebesar 7,2 ppm dapat menurunkan konsentrasi limbah terolah sampai dengan 4,6 ppm dan efisiensi sebesar 95%, sedangkan penambahan kitosan sebesar 14,4 ppm dapat menurunkan konsentrasi limbah terolah menjadi 3,6 ppm dan efisiensi sebesar 96%. Penggunaan campuran zat aditif dengan konsentrasi masing-masing 5% diperoleh konsentrasi limbah terolah sebesar 2,9 ppm dan efisiensi sebesar 97%. Pada kondisi limbah zat warna sebesar 100 ppm, dosis koagulan 180 ppm, masing-masing zat aditif 5%, kondisi operasi terbaik untuk proses koagulasi diperoleh pada kecepatan pengadukan 120 rpm dan waktu pengadukan selama 7 menit, sedangkan untuk proses flokulasi diperoleh pada kecepatan pengadukan 40 rpm dan waktu pengadukan selama 45 menit dengan konsentrasi limbah terolah 1,8 ppm dan efisiensi sebesar 98%. Hasil analisis COD sebesar 28 ppm, pH sebesar 7,02 , BOD sebesar 14,09 ppm, dan TSS sebesar 1,92 ppm yang diperoleh dari limbah terolah.