// <![CDATA[SMK PERTANIAN PADAGIRI BANDUNG BARAT Tema:]]> Ir. Widji Indahing Tyas, MT. Ir. Achsien Hidayat, MT. Imam Ayituri Primadi /21.2012.103 Penulis
Sekolah sebagai sebuah fasilitas pendidikan formal tentunya memiliki beragam standar baku yang mengikat sebagai jaminan terselenggaranya proses pendidikan yang berkualitas. Termasuk didalamnya standar mengenai sarana dan prasarana fisik sekolah. Beragamnya aktivitas yang terjadi di dalam lingkungan sekolah pada akhirnya membuat fungsi ruang menjadi semakin kompleks. Mau tidak mau, hal inilah yang kemudian mendorong adanya sebuah peraturan yang dengan sedemikian rupa mengatur ruang-ruang apa saja yang harus dibangun. Kebutuhan ruang yang beragam membuat sekolah menjadi sebuah fasilitas dengan salah satu ciri khasnya yaitu bangunan dengan multi-masa. Disisi-lain, tapak menjadi salah satu poin yang sangat esensial dalam perancangan bangunan multi-masa. Keberadaan tapak berkontur seringkali menjadi sebuah momok bagi para perancang dalam mendesain bangunan multi-masa. Tak ayal rekayasa kontur pada akhirnya seringkali menjadi jalan keluar untuk mengatasi masalah ini. Padahal jika ditinjau kembali, rekayasa kontur pada tapak memiliki efek domino yang cukup serius kedepannya. Disinilah kemudian kearifan dari arsitektur sunda muncul sebagai jalan keluar yang sangat efektif. Bagaimana moyang terdahulu merancang bangunan yang kaya akan makna filosofis namun juga tetap dapat merespon kondisi lingkungan sekitar. Nilai-nilai pada arsitektur sunda inilah yang kemudian coba dipilih dan diterapkan sedemikian rupa pada rancangan sekolah pada tapak berkontur ekstrem.