// <![CDATA[SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PETERNAKAN TANJUNGSARI (TANJUNGSARI ANIMAL HUSBANDRY VOCATIONAL HIGH SCHOOL) TEMA :]]> Ir. Achsien Hidayat, M.T Ir. Widji Indahing Tyas, M.T. Arini Pramudiani /21-2012-050 Penulis
Kebutuhan akan sarana belajar mengenai agribisnis peternakan semakin meningkat mengingat saat ini Indonesia masih memasok daging impor. Hal tersebut bisa terjadi karna kurangnya produksi daging di Indonesia, atau karena kualitas daging di Indonesia belum sebaik daging impor. Maka dari itu dibutuhkan sekolah yang khusus mempelajari tentang hewan ternak. Permasalahan kembali terjadi karena rasio antara sekolah kejuruan lebih sedikit jumlahnya dari sekolah umum. Hal tersebut memicu pemerintah untuk membangun sekolah kejuruan di beberapa titik, khususnya di Kecamatan Tanjungsari. Kecamatan Tanjungsari memiliki potensi yang baik dalam bidang peternakan. Menurut data yang dikeluarkan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumedang, jumlah hewan ternak ruminansia di Tanjungsari lebih banyak dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Sumedang. Namun, sumber daya manusia yang tersedia di Tanjungsari belum memenuhi standar dalam pengetahuan beternak yang sesuai aturannya. Kebanyakan peternak di Tanjungsari hanya meneruskan bisnis yang sudah ada dari orangtuanya atau turun temurun. Oleh sebab itu, pengetahuan yang dimiliki kurang memadai. Desain sekolah memang sudah memiliki aturan dan standar yang berlaku, tetapi belum tentu standar tersebut memenuhi kenyamanan penggunanya. Oleh karena itu, muncul ide desain yang memperhatikan pengaruh perilaku pengguna terhadap massa bangunan sekolah menengah kejuruan Tanjungsari Animal Husbandry Vocational High School.