// <![CDATA[PENENTUAN JENIS DAN JUMLAH PRODUK YANG AKAN DIPRODUKSI UNTUK MENINGKATKAN KEUNTUNGAN PENJUALAN PADA UD HARJA SETIA]]> M. Faza Yasin /13-2011-141 Penulis Dr. Kusmaningrum, Ir. MT.
Kapas merupakan komoditas yang sangat dicari dan memiliki nilai jual tinggi. Kapas pada umumnya digunakan dalam industri tekstil untuk dijadikan benang dan membuat kain jenis katun. Kapas juga digunakan dalam jaring ikan, saringan kopi, tenda, dan pembatas buku. Selain itu, kapas juga mempunyai kegunaan lainnya, yaitu sebagai bahan baku kapas kecantikan dan kapas pembersih, spons bedak, perban dan plester luka, serta cotton bud. UD Harja Setia merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi produk-produk olahan kapas, diantaranya yaitu kapas mentah, kapas kecantikan super, kapas kecantikan biasa, kapas pembalut, sliper, dan cotton bud. Permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan yaitu masih melakukan produksi secara sembarang. Penentuan komposisi produk untuk jenis produk yang akan diproduksi belum dihitung secara tepat. Selain itu, penentuan ongkos produksi masih dilakukan secara intuitif tanpa perhitungan terperinci yang menyebabkan ketidakjelasan mengenai keuntungan yang didapat. Penelitian ini akan membahas penggunaan pemodelan sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh UD Harja Setia. Dalam melakukan pemodelan sistem, diperlukan sebuah diagram untuk menggambarkan keterkaitan antar komponen yang ada pada perusahaan, yaitu dengan menggunakan influence diagram. Influence diagram tersebut menjadi acuan dalam pembuatan model matematis untuk menghitung keuntungan. Setelah itu, dilakukan penentuan komposisi produk untuk jenis produk yang akan diproduksi. Penentuan tersebut dirancang berdasarkan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Terdapat dua alternatif kebijakan produksi dalam menentukan komposisi produk, yaitu kebijakan produksi tanpa overtime dan dengan overtime. Langkah terakhir adalah menggunakan model matematis untuk menghitung ongkos produksi dan keuntungan yang didapatkan perusahaan berdasarkan dua alternatif kebijakan produksi yang telah ditetapkan. Kemudian dilakukan perbandingan ongkos produksi dan keuntungan dari kedua kebijakan produksi tersebut.