// <![CDATA[BANDUNG CARDIOVASCULAR HOSPITAL :]]> ICANG ABDUL HALIM / 212008073 Dosen Pembimbing 1 Thomas Brunner, Ir., MM. Riantiza, ST. MSc. Eggi Septianto. ST, MT.
Bandung Cardiovascular Hospotal (BCH) merupakan rumah sakit khusus menangani penyakit Cardo (jantung) dan Vascular (pembuluh darah) yang berada di Jalan Kebonjati Bandung. Tiga hal utama yang melatarbelakangi perancangan RS ini, yaitu: (1) Faktor keadaan penyakit Cardiovascular yang khususnya di Kawasan Bandung Raya, (2) Faktor edukasi terhadap penyakit Cardiovascular (dari sisi lain isu taman tematik sebagai fasilitasnya), dan (3) Faktor perilaku masyarakat Indonesia disaat menjenguk pasien. Faktor-faktor tersebut dikolaborasikan menjadi sebuah gagasan tema, yang disebut creative programming. Creative Programming (disprogramming) yaitu mengkombinasi program Rumah Sakit khusus (isu kebutuhan RS khusus jantung) dengan taman tematik (isu smart city, gagasan Kota Bandung) serta program hostel (isu budaya solidaritas masyarakat Indonesia), yang dari ketiga program tersebut memiliki fungsi tersendiri tetapi memiliki keterkaitan fungsi satu sama lain sehingga ada fungsi pendukung (komersial) yang saling terkait pada ketiga program tersebut. Bandung Cardiovascular Hospital dirancang untuk menjadi Rumah Sakit khusus jantung pertama yang berada di Kota Bandung. Penerapan tema Creative Programming ini akan di terjemaahkan dalam konsep-konsep arsitekur. Bandung Cardiovascular Hospital akan di bagi kedalam 3 zona utama ditambah 1 zona transisi, yaitu: (1) Pengaplikasian isu penyakit Cardiovascular di terjemahkan dalam program (zona) perlayangan kesehatan, (2) Pengaplikasian isu edukasi penyakit cardiovascular diaplikasian dalam program (zona) taman tematik, dan (3) Pengaplikasian isu prilaku dengan dirancah sebuah area hunian sewa sebagai fasilitas keluarga pasien. Permasalah utama perancangan Bandung Cardiovascular Hospital ini adalah kejelasan zona (Pelayanan kesehatan, edukasi kesehatan, hunian sementara) dan akses dari satu zona ke zona lainnya, sehingga dirancanglah zona transisi. Disamping itu permasalahan perancangan yang perlu diselesaikan akibat zona tersebut adalah faktor kebisingan. Penyelesain faktor kebisingan ini dengan mengolah zona, bentuk, dan pemilihan material (baik structural ataupun arsitektural). Tapak yang memanjang selatan-utara memberi dampak pada gubahan massa bangunan beradaptasi dengan tapak, sehingga pembagian zona fungsi di dalam sisi timur dipergunakan untuk fungsi utama kamar rawat inap dan sisi barat digunakan untuk fungsi servis. Dan penyelesaian fasade sisi-sisi tersebut dengan adiktif-substraktif bentuk bangunan serta penambahan sirip bangunan untuk menimbulkan efek pembayangan untuk dapat mengurangi paparan sinar matahari.