// <![CDATA[PEMETAAN KAWASAN BENTANG ALAM KARST DENGAN MEMANFAATKAN DATA CITRA SATELIT LANDSAT 8 (Studi Kasus:]]> 0422066701 - Moch. Abdul Basyid Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1 Egi Mustofa Lauviere /23-2013-139 Penulis
Berkembangnya pembangunan di wilayah Kabupaten Pangandaran dan sekitarnya, mengakibatkan kebutuhan akan penambangan material batu gamping, sebagai bahan baku pembuatan semen semakin meningkat. Hal ini berdampak kurang baik terhadap kondisi karst yang ada di wilayah penambangan batu gamping. Batu gamping sendiri merupakan penyusun utama dari karst. Dalam rangka melindungi kawasan karst dari aktifitas penambangan, diselenggarakanlah pemetaan kawasan karst menjadi kawasan bentang alam karst yang berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.17 Tahun 2012. Metodologi yang dilaksanakan dalam penelitian ini berdasarkan hasil identifikasi visual terhadap permukaan data Citra Landsat 8. Proses yang dilakukan yaitu dengan membuat titik acuan terhadap unsur yang diduga merupakan morfologi karst (Eksokarst) pada data citra. Hasil titik acuan pada citra di verifikasi dengan bantuan GoogleEarth untuk mengetahui visual titik acuan di lapangan. Hasil identifikasi visual selanjutnya di uji akurasi untuk mengetahui keakuratan data yang diperoleh dari hasil identifikasi. Hasil identifikasi pada morfologi karst teridentifikasi unsur perbukitan karst dan dolina, sedangkan untuk uji keakuratan hasil identifikasi secara umum menghasilkan keakuratan 96,19 % dan besar nilai Kappa Accurasy 0.9674. Hasil delineasi pemetaan kawasan bentang alam karst terbagi menjadi empat kawasan dengan luas masing-masing 341 Ha dan 3.023 Ha pada Kecamatan Cigugur sampai Kecamatan Parigi, dan Kecamatan Cijulang sampai Kecamatan Cimerak dengan luas 511 Ha, dan 7.214 Ha dengan keakuratan hasil delineasi kawasan bentang alam sebesar 98,34 % berdasarkan perbandingan dengan hasil delineasi Badan Geologi Lingkungan.