// <![CDATA[PERANCANGAN TPS 3R UNTUK MENDUKUNG PROGRAM KAWASAN BEBAS SAMPAH (KBS) KOTA BANDUNG]]> Siti Ainun, S.T., S.Psi., M.Sc Ulfa A. Nadillah / 252012011 Penulis Iwan Juwana, S.T., M.E.M., Ph.D
Kota Bandung memiliki permasalahan dalam penanganan sampah, antaranya adalah dalam hal ketidakseimbangan pelayanan, penyediaan, dan pengelolaan fasilitas TPS. Salah satu upaya pemerintah untuk menangani permasalahan sampah tersebut adalah melalui program Kawasan Bebas Sampah (KBS). Indikator berjalannya program ini di suatu wilayah adalah dengan tersedianya TPS 3R, guna mendukung target program Kawasan Bebas Sampah (KBS). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat desain TPS 3R yang dialukakan melalui tiga tahap, yaitu pemilihan lokasi TPS yang berpotensi menjadi TPS 3R, observasi, dan pengambilan data di TPS terpilih, dan perancangan TPS 3R. Setelah melalui tahapan pemilihan, lokasi TPS terpilih adalah TPS Patrakomala Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung. Hasil studi menunjukan jumlah rata-rata alat pengumpul yang masuk ke TPS Patrakomala terdiri dari 4 gerobak, 8 trida dan 2 mobil/hari. Timbulan sampah yang masuk ke TPS adalah 11,58 ton/hari. Komposisi sampah komposisi didominasi oleh sampah organik yaitu sebesar 60,94 % sedangkan untuk sampah anorganik sebesar 29,90 %, residu 8,79 % dan terakhir adalah sampah B3 rumah tangga sebesar 0,29 %. Perancangan TPS menjadi TPS 3R dilakukan dengan membuat desain layout TPS 3R berdasarkan perhitungan kebutuhan area untuk memenuhi kebutuhan kondisi saat ini. Area TPS 3R dibuat di atas lahan sebesar 480 m2. Idealnya luas lahan tersebut hanya diperuntukan untuk mengelola 50% sampah tercampur atau masyarakat sudah melakukan pemilahan. Terdapat dua skenario utama perancangan, yaitu kondisi pesimis, masyarakat tidak melakukan pemilahan (0% di sumber) dan masyarakat sudah melakukan pemilahan hingga 50% di sumber. Skenario ini dikombinasikan dengan jenis pengolahan sampah pengomposan dan biodigester. Fasilitas TPS 3R yang dirancang terdiri dari fasilitas pengomposan/biodigester, pemilahan, barang lapak, garasi/penyimpanan alat kumpul, pengemasan/ penyaringan, residu, B3, dan kantor. Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan area untuk pengolahan sampah organik, penggunaan biodigester lebih hemat lahan.