// <![CDATA[MENGGESER STIGMA MASYARAKAT TERHADAP MUSIK UNDERGROUND DI KOTA BANDUNG MELALUI MEDIA WEB SERIES]]> Della Meiralarasari, M.Ds. Dosen Pembimbing 2 Inko Sakti Dewanto, M.Ds. Dosen Pembimbing 1 Mega Rossmayani / 33-2013-080 Penulis
Musik underground biasanya mencoba mengkritisi kehidupan politik dan sosial serta mengisyaratkan penolakan kepemimpinan dari berbagai aturan yang ada di dunia sosial dan politik atau bahkan mengkritisi para pemerintah dan pejabat. Misalnya terdapat beberapa lirik kekecewaan pada lagu yang bernada menghina atau melecehkan terhadap keadaan kehidupan politik, ideologi dan sosial. Kota Bandung merupakan pelopor lahirnya musik underground di Indonesia. Reggi Kayong Munggaran (pengamat musik underground) menyebutkan bahwa tingginya apresiasi masyarakat lokal dalam musik underground membuat kota Bandung masuk ke dalam lima besar komunitas underground terbesar dalam skala internasional. Namun ada semacam pola imitasi dari jenis musik yang dimainkan dan pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar yang datang namun para pelaku musik underground tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di kultur lokal. Para pelaku musik underground di kota Bandung hanya meniru secara mentah apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas musikalitas dan fashion-nya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Sehingga muncul kesenjangan persepsi antara musisi serta para pecinta musik underground dan masyarakat umum. Prof. Dr. Bambang Sugiharto (filsuf musik underground) menggambarkan bahwa komunitas underground di kota Bandung memiliki kesamaan visi dengan akar komunitas di Inggris dan Amerika, namun komunitas underground di Bandung belum disertai perenungan ideologis, hal ini dikarenakan minimnya media informasi yang mengangkat subkultur underground serta kurangnya pemahaman atau adanya miss perception dari paham yang telah didapat.