// <![CDATA[RANCANGAN LINTASAN PERAKITAN TWO-SIDED MOBIL PEDESAAN MENGGUNAKAN METODE J-WAGON, REGION APPROACH, DAN SWAP 2-2 (INTERCHANGE)]]> Rispianda, S.T., M.T., M.Phil Dosen Pembimbing 1 Fadillah Ramadhan, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Bayu Satria Husada/132014007 Penulis
Mobil pedesaan merupakan transportasi yang sangat penting bagi masyarakat desa. Agar dapat membangun sebuah industri otomotif mobil pedesaan, maka diperlukanlah dokumentasi assembly mobil pedesaan dan pengelompokkan stasiun kerja untuk proses perakitannya. Target produksi harus dimiliki sebelum melakukan produksi massal, sehingga dibutuhkanlah kapasitas produksi perakitan mobil pedesaan agar target produksi dapat terpenuhi. Untuk menentukan kapasitas produksi, dibutuhkanlah pengelompokkan stasiun kerja dan keseimbangan lintasan perakitan supaya pembagian beban kerja pada setiap stasiun kerjanya merata, sehingga digunakanlah pendekatan assembly line balancing. Salah satu model lintasan perakitan yang dapat digunakan yaitu model lintasan twosided dengan penyeimbangan lintasan menggunakan metode j-wagon, region approach, dan swap 2-2(interchange). Proses penyeimbangan lintasan dilakukan dengan menggunakan metode j-wagon dan region approach terlebih dahulu, kemudian setelah didapatkan hasil yang terbaik diantara dua metode tersebut barulah digunakan teknik swap 2-2 (interchange) yang bertujuan agar hasil penyeimbangan lintasan lebih baik dari sebelumnya. Proses interchange dilakukan dengan cara melakukan pertukaran dua aktivitas yang terpilih pada stasiun kerja yang berbeda. Hasil dari penyeimbangan lintasan dengan metode j-wagon diperoleh nilai efisiensi lintasan sebesar 81,546 %, smoothness index sebesar 1243,412 dan balance delay sebesar 18,452 %. Dengan metode region approach diperoleh nilai efisiensi lintasan sebesar 77,841 %, smoothness index sebesar 1364,536 dan balance delay sebesar 22,159 %. Kemudian terpilihlah metode j-wagon yang akan dilakukan proses perbaikan dengan teknik swap 2-2 (interchange), agar hasil penyeimbangan lintasan menjadi lebih optimal. Hasil penyeimbangan lintasan dengan teknik swap 2-2 (interchange) diperoleh nilai efisiensi lintasan sebesar 81,546 %, smoothness index sebesar 1166.273 dan balance delay sebesar 18,452 %. Adanya penurunan nilai smoothness index yang diperoleh, mengakibatkan berkurangnya waktu menganggur operator, sehingga penumpukan bahan baku maupun produk setengah jadi dibeberapa stasiun kerja berkurang.