// <![CDATA[HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP KECEPATAN RESPON DAN JUMLAH KESALAHAN PADA PENGEMUDI MOBIL DI BANDUNG]]> Rizkia Rahayu /13 – 2013 - 161 Penulis Dr. Caecilia Sri Wahyuning, Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1 Asterina Febrianti, S.T, M.T. Dosen Pembimbing 2
Mengemudi merupakan aktivitas mengarahkan arah perjalanan perahu, mobil, pesawat terbang dan alat transportasi lainnya. Mengemudi terdiri dari beberapa aspek yaitu pengemudi, kendaraan, penumpang, jalan, lingkungan sekitar, dan interaksi energi yang ditimbulkan antar aspek-aspek tersebut. Setiap aspek yang berinteraksi disebut dengan sistem mengemudi. Jika sistem mengemudi ini tidak diperhatikan dengan baik pada semua aspek, maka akan menimbulkan risiko kecelakaan saat mengemudi. Menurut BIN diketahui bahwa faktor terbesar yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas adalah faktor pengemudi. Faktor pengemudi kemungkinan besar disebabkan oleh kelelahan. Kelelahan yang dirasakan oleh pengemudi dapat disebabkan oleh kebisingan mobil, jam kerja, lama mengemudi, tempat duduk mengemudi yang tidak nyaman, kondisi lalu lintas dan kantuk yang dirasakan oleh pengemudi. Kelelahan yang berlebihan dapat menyebabkan stres. Stres itu sendiri dapat didefinisikan sebagai tekanan yang melebihi kapasitas tubuh manusia. Dampak stres dapat menurunkan performansi. Performansi pengemudi yang menurun dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan hal tersebut timbul hipotesis awal bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dan tingkat performansi dengan pertanyaan apakah jam kerja dapat mempengaruhi tingkat stres dan tingkat performansi, apakah tidur dan tidak tidur mempengaruhi tingkat stres dan tingkat performansi dan seberapa kuat hubungan tingkat stres terhadap tingkat performansi dan bagaimana arah hubungan keduanya. Berangkat dari hipotesis dan pertanyaan yang muncul maka diperlukan penelitian mengenai tingkat stres terhadap tingkat performansi. Pengukuran tingkat stres dapat melalui pengambilan enzim amilase dan pengukuran tingkat performansi dapat melalui stroop task dengan keluaran data yaitu kecepatan respon dan jumlah kesalahan. Hubungan keduanya menggunakan analisis regresi liner sederhana. Penelitian ini menggunakan 16 partisipan yang berasal dari mahasiswa/i dengan karakteristik rentang usia 16 -25 tahun, memiliki SIM A dan memiliki pengalaman mengemudi selama 2 tahun. Penelitian ini dilakukan melalui simulasi dengan 2 treatment yakni treatment tidur dan treatment tidak tidur dengan masing – masing treatment memiliki waktu pagi, waktu siang dan waktu sore. Penelitian ini menghasilkan bahwa dengan 16 partisipan yang mengikuti simulasi sudah dapat mewakili penelitian. Koefisien korelasi antara tingkat stres dan tingkat performansi dihasilkan sebesar 0,4. Persamaan regresi linier sederhana yang dihasilkan dari kedua instrumen yaitu Y = 0,170 - 0,025 X, dimana Y merupakan variabel dependen (tingkat performansi) dan Y merupakan variabel independen (tingkat stres). Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas dapat disimpulkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,4 bahwa tingkat stres dan tingkat performansi memliki hubungan yang cukup kuat. Sedangkan persamaan regresi linier sederhana Y = 0,170 - 0,025 X, dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1kU/L tingkat stres maka akan menurunkan performansi sebesar 0,025 menit. Sebaliknya jika setiap penurunan 1 kU/L tingkat stres maka akan meningkatkan performansi sebesar 0,025 menit. Sedangkan jika tingkat stres bernilai 0kU/L maka tingkat performansi akan bernilai sebesar 0,170.