// <![CDATA[RANCANGAN SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU KERTAS MENGGUNAKAN MODEL STOKASTIK JOINT REPLENISHMENT DI PT THURSINA MEDIANA UTAMA]]> Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1 Ihsan Dwiputra Utomo/13-2014-244 Penulis Asterina S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
Saat ini perkembangan dunia industri semakin meningkat, salah satunya industri manufaktur. Peningkatan memicu perusahaan bersaing ketat dalam memenuhi permintaan yang berfluktuatif, secara cepat dan tepat. Persediaan bahan baku merupakan faktor utama agar proses produksi berjalan dengan lancar sehingga dapat memenuhi permintaan konsumen tepat pada waktunya. PT Thursina Mediana Utama merupakan salah satu perusahaan yang bergerak pada industri manufaktur khusus mengenai percetakan. Produk yang dihasilkan bermacam-macam seperti buku pelajaran, brosur dan kalender. Bahan baku utama yang digunakan PT Thursina Mediana adalah kertas dengan berbagai variasi kertas (multi item). Kebutuhan bahan baku kertas yang digunakan oleh perusahaan berfluktuatif pada setiap periodenya. Untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan bahan baku kertas bekerja sama dengan bekerja sama dengan beberapa supplier salah satunya PT Idebaru Inti Papierz. Pengendalian sistem bahan baku pada perusahaan masih menggunakan intuisi, sehingga perusahaan melakukan pemesanan secara terpisah pada setiap jenis bahan baku ketika mengalami kekurangan. Pemesanan dilakukan tanpa mempertimbangkan bahan baku lain yang berasal dari satu supplier yang sama, hal ini dapat meningkatkan tingginya ongkos yang dikeluarkan. Berdasarkan masalah tersebut, metode yang tepat yaitu metode sistem persediaan dengan joint replenishment yang menghasilkan interval waktu pemesanan, inventory level dan ongkos total gabungan. Penelitian tugas akhir ini menghasilkan interval waktu pemesanan selama 16 hari dengan inventory level yang berbeda-beda. Total ongkos persediaan berdasarkan hasil rancangan sebesar Rp 15,076,857.28 per tahun sedangkan total ongkos yang dikeluarkan dengan sistem perusahaan sebesar Rp 18,810,579.55 per tahun. Perbedaan ongkos disebabkan oleh frekuensi pengiriman dan ongkos simpan yang dikeluarkan sehingga hasil rancangan menghasilkan nilai yang lebih kecil dibandingkan sistem perusahaan. Selisih ongkos antara hasil rancangan dengan sistem perusahaan sebesar Rp 3,733,722.27 per tahun. Nilai penghematan dapat dikonversikan ke dalam persentase sebesar 19.85 % per tahun.