// <![CDATA[RANCANGAN PUSAT REHABILITASI PSIKOTROPIKA “YORDAN” BANDUNG DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR SUNDA]]> Charles Lim/21-2012-204 Penulis Mamiek Nur Utami, Ir, M.M Dosen Pembimbing 1 Erwin Yuniar Rahadian, S.T, M.T Dosen Pembimbing 2
Masalah yang menjadi persoalan utama dalam negeri Indonesia ini salah satunya adalah penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat aditif) yang dikonsumsi hampir di setiap kalangan. Tercatat permasalahan penyalahgunaan NAPZA yang dihadapi ini hampir setiap tahun tidak pernah kunjung usai. Hal ini menjadikan Indonesia menetapkan bahwa negara ini darurat narkoba dan obat-obat terlarang lainnya. Dengan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA ini maka diharuskan adanya sarana dan prasarana yang mendukung dengan menciptakan pusatpusat rehabilitasi yang dapat menampung setiap korban penyalahgunaan NAPZA. Pusat rehabilitasi psikotropika ini diharapkan dapat menjadi suatu tempat dimana korban dari penyalahgunaan NAPZA dapat kembali hidup dengan lebih baik, terlepas dari keterikatan terhadap obat-obat terlarang dan narkoba melalui pendekatan agama kristen dan metode therapeutic community. Bangunan rehabilitasi ini bertemakan arsitektur sunda, dimana pembentukan ruang dan fisik bangunan mengambil unsur arsitektur tradisional sunda agar dapat menyatu sehingga tidak ada kesenjangan dengan bangunan disekitarnya melainkan terciptanya keserasian. Konsep arsitektur sunda sendiri diambil karena berhubung dengan lokasi yang berada pada bumi pasundan. Arsitektur lokal setempat dapat menjadi suatu wadah yang menggambarkan kesan kembali kepada alam maupun pedesaan, jauh dari suatu keramaian, kepadatan, kebisingan, dan berbagai aktifitas lainnya yang dapat menimbulkan keadaan stress dan gelisah.