// <![CDATA[LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK (LKSA) MIRACLE VILLAGE]]> Ir. Mamiek Nur Utami, M.M. Dosen Pembimbing 2 Suhanda Sutisna/21-2013-044 Penulis Erwin Yuniar R, ST, M.T. Dosen Pembimbing 1
Banyaknya keluarga miskin yang mengirim anak-anaknya ke Lembaga kesejahteraan sosial anak menjelaskan situasi belum terbangunnya sistem ekonomi untuk mendukung keluarga keluarga tersebut. Situasi tersebut dapat menambah permasalahan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) seperti anak terlantar disebuah Kota bahkan Negara. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari sebuah keluarga yang normal cenderung kesulitan bersosialisasi dan menunjukkan problem psikologis, seperti inferior, pasif, apatis, menarik diri, putus asa, ketakutan, dan kecemasan. Kondisi anak terlantar seperti ini sangat memprihatinkan sehingga diperlukan dukungan lingkungan untuk tumbuh kembang anak yang optimal yaitu sebuah fasilitas berupa LKSA (Lembaga kesejahteraan sosial anak). Pendekatan arsitektur perilaku digunakan sebagai upaya untuk menghasilkan sebuah bangunan yang dapat mendukung perilaku anak. Bangunan terdiri dari unit-unit keluarga yang bertujuan untuk menghidupkan suasana kekeluargaan didalam lingkungan LKSA. Massa bangunan pada LKSA Miracle Village disusun secara dinamis namun teratur dengan bentuk dasar kotak yang berorientasi menghadap kedalam pada area huniannya. Hal tersebut bertujuan agar anak asuh secara tidak langsung dapat merasa lebih aman, mudah bersosialisasi dan disiplin. Pada ruang dalam huniannya juga didesain agar semua aktivitas anak asuh dipusatkan ditengah yaitu ruang keluarga, sehingga dapat mempermudah pengawasan Ibu asuh dan membiasakan anak asuh untuk saling berbagi.