// <![CDATA[KIARACONDONG BIOMORPHIC STATION]]> Ardhiana Muhsin, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Ir. Thomas Brunner, M.M. Dosen Pembimbing 1 Basam/21-2013-099 Penulis
Dahulu seluruh kereta api penumpang, mulai dari kelas eksekutif sampai ekonomi, dilayani di Stasiun Bandung. Peningkatan jadwal pemberangkatan di Stasiun Bandung membuat keberangkatan kereta api kelas ekonomi jarak jauh dan menengah dialihkan ke Stasiun Kiaracondong. Stasiun Kiaracondong saat ini menjadi titik ujung timur jalur rel ganda kawasan Bandung Raya (Padalarang-Cicalengka). Kereta api kelas campuran kini juga berhenti di stasiun Kiaracondong, kebijakan ini menjadikan stasiun Kiaracondong sebagai titik keberangkatan dan kedatangan penumpang kedua di Kota Bandung. Stasiun kereta api di Indonesia khususnya di Kota Bandung banyak beroperasi pada masa pemerintahan kolonial Belanda, hal ini membuat Stasiun kereta api banyak terpengaruhi gaya kolonial dan tetap bertahan hingga kini. Kurangnya penerapan identitas kawasan atau kota terhadap stasiun di Indonesia menjadi salah satu kekurangan, sehingga penerapan arsitektur biomorfik sebagai elemen pembentuk massa, diharapkan akan menghadirkan citra baru khususnya untuk kegiatanperkereta apian di Kota Bandung, dimana stasiun tersebut tidak hanya menjadi sebuah bangunan penunjang kegiatan perkeretaapian saja melainkan sebagai landmark kawasan khususnya Kiaracondong.