// <![CDATA[PENERAPAN POLA PILOTIS PADA BANGUNAN STASIUN KIARACONDONG]]> Eggi Septianto, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1 Nur Laela Latifah, S.T., M.T. Penulis Aliska Damayanti Putri/21.2014.027 Penulis
Stasiun Kiaracondong merupakan sarana transportasi berupa fasilitas publik antar kota yang berada dijalan Jembatan Opat, Kebonjayanti, Kecamatan Kiaracondong, Kelurahan Babakansari dan merupakan stasiun terbesar kedua di Kota Bandung. Tujuan dalam pembangunan ini yaitu untuk menciptakan fasilitas publik bagi masyarakat Kota Bandung berupa bangunan stasiun kereta api dengan fasilitas pendukung berupa hotel transit. Sesuai dengan rencana pengembangan Stasiun Kiaracondong, akan dibuat skybridge sebagai akses penyeberangan pengunjung dari Stasiun Utara ke Stasiun Selatan ataupun sebaliknya. Penerapan pola pilotis pada bangunan Stasiun Kiaracondong disini merupakan salah satu alternatif desain yang merupakan sebuah perkembangan dari arsitektur modern. Menurut Le Courbusier pilotis disini lebih memperlihatkan struktur bangunan berupa penggantian dinding pendukung dengan grid kolom yang berfungsi untuk menyandang beban struktural sebagai sebuah dasar estetika baru pada desain bangunan. Pada Stasiun Kiaracondong terjadi crossing antara pengguna stasiun pada saat berada di dalam bangunan maupun di area peron pada saat terjadinya jadwal keberangkatan dan jadwal kedatangan kereta api. Dengan adanya penerapan pola pilotis disini, didapatkan pemisahan zoning dan sirkulasi secara vertikal. Akses vertikal dapat diaplikasikan pada tangga, eskalator, ramp, maupun lift. Sehingga sirkulasi dan pergerakan pengunjung stasiun tidak hanya berada di bawah saja, tetapi sebagian akan berada di atas, terutama untuk pengunjung yang akan melewati/menyebrangi dari Stasiun Selatan ke Stasiun Utara atau sebaliknya, pengunjung akan lebih mudah melewati skybridge bangunan yang terhubung antara Stasiun Utara dengan Stasiun Selatan.