// <![CDATA[PENENTUAN POLA KEGAGALAN PADA PELAT BERLUBANG YANG DIKENAI BEBAN TARIK (STUDI KASUS DENGAN METODE LRFD DAN FEM)]]> 0410087101 - Nur Laeli Hajati, ST., MT. Dosen Pembimbing 1 Roland Rian U. N./22-1998-170 Penulis
Penyaluran pya pada batang tarik umumnya menggunakan pelat penyambung pada titik-titik sambungan. sehingga perlu disediakan lubang yang menyebabkan perlemahan pada batang tarik. Metode LRFD (Load and Resistance Faktor Design) merekomendasikan keadaan batas dalam kekuatan desain dan kegagalan blok pada batang tarik . Dalam perencanaan, perlu kiranya mengetahui hubungan antara rasio dimensional S1/D dan W/D dengan pola kegagalan yang akan terjadi pada batang tarik Dimana S1 adalah jarak ujung yang diukur dari pusat lubang ke tepi pelat, (W) Iebar pelat dan diameter lubang (D). Perhitungan menggunakan metode LRFD dilakukan pada rasio dimensional S1/D dan W/D yang bemilai 2 sampai dengan 10, dengan kondisi pelat berlubang tunggal dan letaknya yang sentris. Tebal pelat (1) dan diameter lubang bernilai konstan yaitu 10 mm dm 15 mm. Pemodelan menggunakan elemen hingga dengan mengasumsikan kondisi batas sepanjang pola kegagalan yang didapat dari metode sebelumnya dilakukan pada rasio dimensioanal S1/D = 3 dengan W/D = 2 sampai dengan 10. Beban yang dikenakan pada model merupakan kekuatan desain yang diperoleh dari metode LRFD. Pada rasio dimensional S1/D = 2 terjadi pola kegagalan retak penampang bersih untuk W/D= 2, leleh geser-retak tarik untuk W/D = 3 dan 4, dan geser murni untuk W/D = 5 sampai 10. Pada rasio dimensional S1/D = 3 terjadi pola kegagalan retak penampang bersih untuk W/D = 2 dan 3, leleh geser-retak tarik untuk W/D = 4 dan 5. dan geser murni untuk W/D = 6 sampai 10. Pada S1/D= 4 pola kegagalannya adalah retak penampang bersih untuk W/D = 2 sampai 4, retak geser-leleh tarik untuk W/D = 5, leleh geser-retak tarik untuk W/D = 6 dan 7, dan geser murni untuk W/D = 8 sampai dengan 10. Pada rasio dimensional S1/D = 5 pola kegagalannya adalah retak penampang bersih untuk W/D = 2 sampai 4, leleh penampang bruto untuk W/D = 5, retak geser-leleh tarik untuk W/D = 6, leleh geser-retak tarik untuk WID = 7 sampai 9, dan geser murni untuk W/D = 10. Rasio dimensional S1/D = 6 pola kegagalannya adalah adalah retak penampang bersih untuk W/D = 2 sampai 4, leleh penampang bruto untuk W/D = 5 sampai 7, dan leleh geser-retak tarik untuk W/D = 8 sampai 10. Rasio dimensional S1/D = 7 pola kegagalannya adalah adalah retak penampang bersih untuk W/D = 2 sampai 4, leleh penampang bruto untuk W/D = 5 sampai 9, dan leleh geser retak tarik untuk W/D=10. Dengan rasiodimensional S1/D =9 sampai 10 akan terjadi pola kegagalan leleh geser-retak penampang bersih untuk W/D = 2 sampai 4, dan leleh penampang bruto untuk W/D 5 sampai 10 Kegagalan blok geser akan terjadi pada saat nilai S1/D = 2 sampai dengan 8. Pada pemodelan, asumsi kondisi batas dengan menahan ke segalah arah sepanjang pola kegagalan cukup mendekati hasil perhitungan dengan metode LRFD untuk mutu baja BJ 37.