// <![CDATA[PERCANCANGAN BUKU PANDUAN PENGOLAHAN PEWARNA TESKTIL ALAMI UNTUK MENINGKATKAN INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN]]> Inko Sakti Dewanto S.T., M.Ds. Dosen Pembimbing 1 Diana Elektra Alia/ 33-2014-080 Penulis
Zat pewarna alam memberikan pigmen penimbul warna yang dapat diperoleh dari akar, batang, daun, buah, kulit, dan bunga. Saat ini terdapat 150 jenis flora di Indonesia yang memiliki potensi menjadi sumber zat pewarna alami, namun pemanfaatan tanaman – tanaman tersebut belum digunakan secara maksimal. Pengambilan zat warna dari tanaman dilakukan sebagai salah satu upaya pemanfaatan sumber daya alam yang ada dan menghasilkan pewarna yang ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis serta mengurangi limbah berbahaya yang dapat merusak lingkungan sekitar. Proses pengolahan tanaman untuk menjadi pigmen tekstil pun bertahap dan membutuhkan kesabaran untuk mendapatkan warna yang sesuai dengan keinginan, namun ketika proses pewarnaan telah mencapai keseimbangan warna yang diinginkan, kain yang dicelup dengan proses pewarna alami akan lebih memiliki nilai jual yang tinggi dan memberikan daya saing yang baik dalam industri ekonomi karena warna yang dihasilkan akan terlihat lebih indah seiring waktu dan memberikan kesan etnik pada kain tersebut. Oleh karena itu, edukasi bagi para pegiat atau peminat kerajinan tekstil untuk memilih zat pewarna alam penting dilakukan untuk melindungi kesehatan lingkungan, juga membangkitkan daya jual bahan tekstil Indonesia. Perancangan buku mengenai pengolahan zat alam dari tanaman indigofera, manggis, dan kunyit diharapkan mampu menarik para penggiat tekstil, untuk membudidayakan dan mengolah tanaman tersebut menjadi zat pewarna alam untuk tekstil.