// <![CDATA[PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API BANDUNG DENGAN PENDEKATAN REGIONALISM ARSITEKTUR EKLEKTIK Tema :]]> Widji Indahing Tyas, Ir, M.T. Dosen Pembimbing 2 Eka Virdianti, ST, M.T. Dosen Pembimbing 1 WIDYA PERMATASARI/ 212014234 Penulis
Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi darat yang vital bagi masyarakat baik sebagai penghubung antar-kota maupun dalam kota. Dalam hal ini, stasiun kereta api memiliki peran yang tak kalah penting dari fungsi kereta api itu sendiri. Fungsi stasiun kereta api tidak hanya sebagai halte pemberhentian belaka melainkan sebagai fasilitas transit atau tempat kegiatan datang dan pergi para penumpang, sehingga bangunan stasiun menjadi sarana penting pada setiap kota yang dilalui perjalanan kereta api. Stasiun Bandung (BD) atau Stasiun Hall adalah stasiun kereta api kelas besar yang terletak di Kebon jeruk, Andir, Kota Bandung, tepatnya di perbatasan antara Kelurahan Pasirkaliki dan Kebon jeruk. Stasiun yang terletak pada ketinggian +709 meter ini merupakan stasiun terbesar yang berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi II Bandung. Stasiun ini sebelumnya hanya memiliki satu buah bangunan stasiun. Setelah ada renovasi oleh Pemerintah Kota Bandung, maka stasiun ini sekarang terbagi menjadi dua bagian walaupun tetap bersatu. Stasiun ini berlokasi di Jalan Stasiun Timur No. 1 (pintu selatan) dan Jalan Kebon Kawung No. 43 (pintu utara), Kota Bandung. Berdasarkan visi dan misi transportasi kota Bandung yang akan menjadi transit oriented development (TOD), pemerintah kota membuat konsep pengembangan transportasi bertajuk “Bandung Urban Mobility”. Konsep Bandung Lancar 2031 (Bandung Better Urban Mobility 2031) kepada bebe rapa hal mendasar, salah satunya moda transportasi rel kereta api dan Stasiun Bandung termasuk pada perencanaan konsep kota bandung. Dengan munculnya konsep perencanaan kota bandung untuk tahun 2031 maka Stasiun Bandung mengalami masa pengembangan untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan dan mengikuti teknologi yang berkembang untuk masa kini dan untuk kedepannya. Pengembangan Stasiun Kereta Api Bandung dengan memakai pendekatan regionalism arsitektur eklektik ini penulis sudah mempertimbangkan bagaimana membuat sebuah stasiun yang memiliki desain yang baru dan selaras terhadap lingkungan, dimana penulis mengambil beberapa elemen arsitektur yang sudah ada pada daerah tersebut. Dimana arsitektur china dan arsitektur art deco digabungkan menjadi satu dalam satu bangunan yang akan menghasilkan bangunan baru yang bisa menjadi cerita baru yang di ambil pada sebelumnya, pada artinya penulis akan mengangkat kembali cerita lama menjadi baru.