// <![CDATA[KAJIAN PARAMETER MARSHALL PADA LASTON AC-BC DENGAN MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR YANG DIRENDAM LARUTAN CALSIUM CLORIDA (CaC12)]]> 0408087803 - Sofyan Triana S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Ir. Dwi Prasetyanto, MT. Dosen Pembimbing 1 Lukman Nurhadi Basuni /22 2001 060 Penulis
KAJIAN PARAMETER MARSHALL PADA LASTON AC-BC DENGAN MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR YANG DIRENDAM LARUTAN CALSIUM CLORIDA (CaC12), (Lukman Nurhadi Basuni, NRP. 22 2001 060, Pembimbing Dwi Prasetyanto, Ir, MT, Ko Pembimbing Sofyan Triana, ST, MT., 2006, 82 halaman, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional, Bandung). Jenis batuan di wilayah Propinsi Jawa Barat umumnya memiliki daya penyerapan agregat terhadap air yang relatif tinggi karena mengandung banyak pori. Sebelum agregat digunakan sebagai bahan campuran perkerasan aspal, sifat fisik pada agregat perlu diperbaiki dengan cara perendaman larutan kalsium klorida (CaC12). Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan menggunakan agregat kasar berasal dari daerah Leuwigajah dan dari daerah Nagreg yang kemudian direndam larutan kalsium klorida (CaC12). Penelitian ini menggunakan aspai penetrasi 80. Agregat kasar dengan perendaman CaC12 dilakukan dengan 4 macam rasio perbandingan volume CaC12 dan air yaitu 1 :4; 1 :6; 13; 1 : 10. Dari keempat perbandingan volume kalsium klorida CaCI2 dan air diperoleh nilai konsentrasi larutan 1:4 yang memiliki nilai penyerapan agregat paling kecil yaitu 5,01% untuk Leuwigajah dan 5,2% untuk Nagreg. Nilai Penyerapan Agregat Sebelum direndam sebesar 8,73% untuk Leuwigajah dan 8.8% untuk Nagreg, setelah Direndam CaC12 dengan rasio perbandingan 1 :4 selama 24 Jam adalah 2,68% untuk Leuwigajah dan 2,86 % untuk Nagreg. Setelah dilakukan tes Parameter Marsall didapat Kadar Aspal Optimum sebesar 6,55% untuk Leuwigajah dan 6,85% untuk Nagreg. Campuran beton aspal menggunakan agregat kasar dari Nagreg dengan perendaman kalsium klorida (CaCl2) mempunyai nilai kadar aspal optimum yang lebih kecil dibandingkan dengan campuran beton aspal menggunakan agregat kasar dari Leuwigajah yang direndaman kalsium klorida (CaCl2) , sehingga kadar aspal yang diperlukan campuran beton aspal dengan perendaman kalsium klorida lebih sedikit dibandingkan campuran beton aspal tanpa perendaman larutan kalium klorida. Agregat kasar tanpa direndam larutan kalsium klorida CaC12 tidak mempunyai kadar aspal persyaratan. Analisis Parameter Marshall ndam CaC12 mengalami kenaikan sedangkan VIM,VMA, Flow mengalami penurunan