// <![CDATA[KAJIAN PARAMETER MARSHALL PADA CAMPURAN LASTON AC-BC MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR YANG DIRENDAM LARUTAN NATRIUM SULFAT (Na2SO4)]]> 0408087803 - Sofyan Triana S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Dwi Prasetyanto, Ir., MT Dosen Pembimbing 1 Puji Laksono/222000013 Penulis
KAJIAN PARAMETER MARSHALL PADA CAMPURAN LASTON AC-BC MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR YANG DIRENDAM LARUTAN NATRIUM SULFAT (Na2SO4) (Puji Laksono, NRP. 22 2001 013, Pembimbing Dwi Prasetyanto, Ir., M.T., Ko Pembimbing Sofyan triana, S.T., M.T., 2006, 83 Halaman, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional) Jenis batuan di wilayah Propinsi Jawa Barat umumnya memiliki daya penyerapan agregat terhadap air yang relative tinggi karena mengandung banyak pori, oleh karena itu sebelum agregat digunakan sebagai bahan campuran beraspal, maka sifat fisik pada agregat perlu diperbaiki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari agregat yang direndam larutan natrium sulfat (Na2SO4). Agregat yang diteliti menggunakan agregat kasar yang berasal dari daerah Leuwigajah dan dari daerah Nagrek. Penelitian ini menggunakan asapl penetrasi 80. Agregat kasar yang direndam Na2SO4 menggunakan perbandingan Na2SO4 dan berat air yaitu 1 : 4 dan dengan variasi waktu perendaman dari ½ jam sampai 4 jam. Dari agregat yang direndam Na2SO4 tersebt diperoleh niali penyerapan yang terkecil yaitu 2,46% untuk agegat dari Leueigajah dan 2,45% untuk agregat dari Nagrek. Setelah dilakukan tes Parameter Marshall didapat Kadar Aspal ptimum sebesar 6.41% untuk Leuwigajah dan 6,04% untuk Nagrek. Agregat kasar tanpa direndam larutan Na2SO4 tidak mempunyai kadar aspal optimum karena VIM dan VFA tidak memenuhi persyaratan. Analisis Parameter Marshall menunjukan bahwa Stabilitas dan VFA agregat direndam Na2SO4 mengalami kenaikan sedangkan VIM, VFA, Flow mengalami penurunan. Campuran beton aspal menggunakan agregat kasar dari Nagrek yang direndam larurtan Na2SO4 mempunyai nilai kadar aspal optimum yang lebih kecil dibandingkan dengan campuran beton aspal menggunakan agregat kasar dari Leuwigajah yang direndam Na2SO4.