STUDI PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH (Studi Kasus : Kota Cilegon)
Sampah identik dengan hal yang kotor, bau, tidak terpakai dan tidak pernah diperdulikan, tapi sampah dapat menjadi masalah yang kompleks terutama untuk kota yang sedang berkembang seperti Cilegon, yang sarat dengan industri dan berada pada jalur transportasi yang padat yang menghubungkan antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Hal ini mejadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitarnya untuk bekerja dan tinggal disana. Semakin meningkatnya penduduk di Kota Cilegon akan semakin meningkatkan produksi sampah sebagai sisa dari kegiatan penduduk dan aktifitas kotanya. Di sisi lain semakin berkembangnya Kota Cilegon, akan semakin mempersempit lahan yang dapat dibangun TPA sampah yang berfungsi sebagai tahapan akhir dalam pengolahan sampah diperkotaaan.
Kota Cilegon dilayani oleh 1 buah TPA di Desa Bagendung, dirnana dengan luas 2 ha dipekirakan massa layannya hanya sampai tahun 2004. Dalam pemilihan lokasinya, TPA sampah tersebut tidak didasarkan pada Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA sampah yang dikeluarkan oleh Departeman Pekerjaan Umum, selain itu sistem pembuangan yang digunakan masih open dumping dan sampah yang masuk tidak diolah secara maksimal, yang menyebabkan volume sampah di TPA semakin meningkat tanpa adanya sistem pengolahan sampah yang dapat menghambat laju volume sampah secara signifikan. Hal ini memungkinkan dampak negatif terhadap penduduk dan lingkungan sekitar semakin besar, serta massa layan TPA akan semakin singkat.
Studi ini mengupayakan untuk mencari lokasi TPA sampah baru guna mengantisipasi masalah masalah persampahan yang mungkin timbul. Studi ini menggunakan metode superimpose dengan menampalkan peta-peta fisik berdasarkan tata cara pemilihan lokasi TPA sampah (SK SNI 11-1991-03) yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Hasil pertambahan tersebut didapat satu wilayah seluas 301 ha yang terletak di Kecamatan Pulomerak yang meliputi Desa Pabean, Desa Tegalbunder, dan Desa Purwakarta. Daerah hasil pertampalan terletak diatas kawasan perkotaan (31 ha) dan kawasan perdesaan (270 ha), sehigga daerah yang layak untuk ditempatkan TPA sampah adalah daerah yang terletak diatas kawasan perdesaan. Selanjutnya dilakukan peyebaran kuesioner guna menjaring persepsi masyarakat terhadap rencana pembangunan TPA sampah, hai ini sebagai pertimbangan dalam penentuan lokasi TPA sampah dan menjadi usulan dan rekomendasi bagi instansi dan pihak terkait dalam mengaktualisasi rencana pembangunan TPA sampah. Kemudian untuk menentukan lokasi yang paiing sesuai diantara tiga desa terpilih, digunakan perbandingan terhadap sampel lokasi TPA yang diarnbil dari setiap desa yang kemudian di uji terhadap parameter kesesuaian lahan, jarak dari permukiman, jarak dari pusat kota dan aksesibilitas.
Berdasarkan tahapan-tahapan diatas, didapat lokasi yang paling optimal untuk dibangun TPA sampah, yaitu di Desa Pabean, dimana penggunaan lahanya merupakan kebun campuran, jarak dari permukiman > 300 m, jarak dari pusat kota < 15 km dan tersedia akses. Dengan dernikian dengan menempatkan TPA sampah di lokasi tersebut, diharapkan dapat merninimasi dampak yang mungkin ditimbulkan dari TPA sampah terhadap lingkungan, masyarakat dan terhadap aktifitas Kota Cilegon.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2001).STUDI PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH (Studi Kasus : Kota Cilegon) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.STUDI PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH (Studi Kasus : Kota Cilegon) ().Teknik Planologi:FTSP,2001.Text
MLA Style
.STUDI PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH (Studi Kasus : Kota Cilegon) ().Teknik Planologi:FTSP,2001.Text
Turabian Style
.STUDI PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH (Studi Kasus : Kota Cilegon) ().Teknik Planologi:FTSP,2001.Text