// <![CDATA[PENGKAJIAN TEORI VON THUNEN DI KOTA BANDUNG DITINJAU DARI HARGA LAHAN, PUSAT-PUSAT KEGIATAN DAN TINGKAT AKSESIBILITAS]]> 0418066502 - Dr. Sadar Yuni Rahardjo, Ir., MT. Dosen Pembimbing 1 0419116601 - Ir. Yanti Budiyantini, M.Dev.Plg. Dosen Pembimbing 2 Rr. E. Trihartanti Nuryatno/2496002 Penulis Dianty Soberlin/2496020 Penulis Melina Yuniarti/2496033 Penulis
Teori Von Thunen dikembangkan pertama kali oleh Heinrinch Von Thunen pada awal abad ke-19. Pada awal perkembangannya teori tersebut diterapkan untuk kegiatan pertanian dalam struktur kota berbentuk lingkaran tak beraturan (konsentrik) dengan menggunakan variabel harga penjualan, biaya produksi, dan biaya angkutan. Kegiatan perkotaan yang ada pada saat ini tidak hanya didominasi oleh kegiatan pertanian melainkan kegiatan-kegiatan lain, seperti industri, perdagangan, dan perumahan. Keadaan tersebut juga dialami oleh Kota Bandung yang memi'iki struktur kota Multiple Nuclei (berinti banyak). Sejalan dengan perkembangan kota tersebut, variabel-variabel dalam Teori Von Thunen disesuaikan pula dengan kondisi yang ada. Variabel-variabel yang akan dikaji adalah : Variabel Harga Lahan, Pusat-Pusat Kegiatan dan Tingkat Aksesibilitas. Rumusan masalah yang akan dikaji adalah apakah Wilayah Pengembangan (WP) di Kota Bandung sesuai dengan Teori Von Thunen dilihat dari harga lahan, apakah Wilayah Pengembangan (WP) yang ada di Kota Bandung sudah mandiri atau masih tergantung terhadap WP lain dilihat dari orientasi kegiatan penduduk dalam bekerja dan belanja dan bagaimana tingkat aksesibilitas setiap WP di Kota Bandung dalam mendukung pergerakan penduduk menuju tempat kegiatan dikaitkan dengan asumsi Von Thunen yaitu ongkos transportasi. Variabel harga lahan membahas mengenai perbandingan antara harga lahan dari pusat kota menuju transisi (daerah antara pusat kota dan pusat WP) dan pusat WP tiap wilayah pengembangan berdasarkan kriteria guna Jahan, fasilitas komersil dan aksesibilitas untuk harga Jahan pada pusat kegiatan ekonomi, dan membahas mengenai perbandingan antara harga lahan dari pusat kota menuju transisi dan pusat WP tiap wilayah pengembangan berdasarkan kriteria guna lahan, penduduk, fasilitas non komersil dan aksesibilitas i.mtuk harga lahan pada kegiatan permukiman. Pusat-pusat kegiatan membahas mengenai orientasi kegiatan penduduk dari tempat tinggal menuju tempat kerja dan belanja. Aksesibilitas membahas mengenai tingkat aksesibilitas dari masing-masing pusat WP menuju pusat kota dan pusat WP Jainnya berdasarkan kriteria jarak, waktu tempuh, ongkos transportasi, prasarana jaringan jalan dan sarana angkutan khususnya angkutan umum. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metoda survey primer, yaitu observasi Japangan, wawancara dan penyebaran kuesioner, metoda survey sekunder, yaitu memperoleh data dari instansiinstansi terkait. Metoda analisis yang digunakan antara lain: analisis studi perbandingan (Comparative Study), analisis Frekuensi dan analisis Ukuran Fisik Aksesibilitas. Berdasarkan hasil gambaran umum dan analisis diperoleh kesimpulan bahwa Teori Von Thunen sebetulnya masih berlaku di Kota Bandung, namun tidak bersifat mutlak melainkan ditinjau dari segi tertentu. Berdasarkan variabel harga lahan untuk pusat kegiatan ekonomi masih berlaku bagi setiap WP tetapi berdasarkan harga lahan untuk kegiatan permukiman tidak berlaku untuk semua WP, melainkan hanya berlaku untuk WP Tegallega, Ujungberung dan Gedebage. Hal tersebut didukung pula oleh orientasi kegiatan bekerja penduduk ketiga WP tersebut yang masih berorientasi ke Juar WP sedangkan tingkat aksesibilitas ketiga WP tersebut dapat dikategorikan rendah, terutama WP Gedebage selain rendah prasarana jaringan )alan yang ada sangat sedikit dan sarana angkutan umum yang melayani sangat terbatas baik jumlah maupun jenisnya keadaan tersebut sesuai dengan asumsi Teori Von Thunen yaitu ongkos transportasi yang berbanding terbalik dengan aksesibilitas.